Resume Day One
Tema: Penguatan Literasi Keuangan dan Kesejahteraan Mahasiswa
Oleh Erisandy Yudhistira, Priority Banking Manager Bank Mandiri
Penguatan literasi keuangan bagi mahasiswa merupakan langkah krusial dalam membekali mereka kemampuan mengelola keuangan secara bijak dan bertanggung jawab. Mahasiswa perlu memiliki pemahaman tentang perencanaan anggaran, pengaturan pendapatan dan pengeluaran, serta pengenalan terhadap berbagai produk keuangan seperti tabungan, deposito, asuransi, dan investasi. Pemahaman ini penting karena mahasiswa sering kali menghadapi tantangan finansial sejak memasuki masa kuliah, mulai dari kebutuhan biaya kos, kebutuhan akademik, hingga biaya hidup sehari-hari. Selain itu, maraknya godaan konsumsi berlebihan dan penawaran pinjaman online yang tidak selalu aman membuat literasi keuangan menjadi keterampilan yang wajib dimiliki untuk melindungi diri dari risiko keuangan di masa depan. Tingkat literasi keuangan mahasiswa di Indonesia saat ini masih tergolong rendah, sehingga berpotensi menurunkan kesejahteraan finansial mereka dalam jangka panjang. Rendahnya literasi keuangan menyebabkan banyak mahasiswa tidak memiliki perencanaan yang jelas dalam mengatur pengeluaran, kurang memahami manfaat menabung dan berinvestasi, serta cenderung mudah terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif. Karena itu, peningkatan literasi keuangan harus dilakukan secara menyeluruh agar mahasiswa mampu membuat keputusan finansial yang matang dan memiliki kesadaran pentingnya perencanaan keuangan sejak dini. Hal ini penting karena mahasiswa sering menghadapi tantangan finansial, mulai dari biaya hidup sehari-hari hingga godaan utang konsumtif dan penawaran pinjaman online yang berisiko. Sayangnya, tingkat literasi keuangan mahasiswa di Indonesia masih tergolong rendah, yang dapat menghambat kesejahteraan finansial mereka di masa depan.
Program edukasi keuangan mampu meningkatkan pengetahuan finansial, rasa percaya diri dalam mengelola keuangan (financial self-efficacy), serta kemampuan mahasiswa dalam mengambil keputusan finansial yang lebih bijak. Literasi keuangan yang baik juga terbukti mendorong kebiasaan positif, seperti rajin menabung dan menghindari utang. Saat memasuki masa kuliah, mahasiswa mulai memikul tanggung jawab keuangan secara mandiri, seperti membayar biaya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan keperluan akademik. Dengan literasi keuangan yang baik, mereka dapat mengatur prioritas, menghindari gaya hidup konsumtif, serta mempersiapkan masa depan melalui kebiasaan menabung dan investasi sederhana. Literasi keuangan bukan sekadar teori, tetapi keterampilan hidup yang penting untuk mencapai kemandirian finansial dan kesejahteraan di masa depan.
Tema: Sistem Pendidikan Tinggi di UNUSA
Oleh Prof. Kacung Marijan, Drs., MA., Ph.D - Wakil Rektor 1 UNUSA
Sistem pendidikan tinggi di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) dibangun dengan semangat untuk menjadi universitas unggul, berjiwa wirausaha, dan berjati diri Islami. UNUSA memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan, berawal dari pendirian Sekolah Perawat (SPK) YARSIS pada tahun 1979, dilanjutkan dengan Akademi Keperawatan pada 1985, dan Akademi Kebidanan pada 1997, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi universitas pada tahun 2013 melalui perubahan status dari STIKes YARSIS. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, UNUSA berhasil meraih akreditasi Unggul pada tingkat institusi pada tahun 2023, dengan sebagian besar program studi juga telah memperoleh akreditasi Unggul atau Baik Sekali. Universitas ini menawarkan berbagai program studi di bidang kesehatan, pendidikan, teknik, ekonomi bisnis, dan keguruan yang tersebar di lima fakultas, yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan, Fakultas Kesehatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Teknologi Digital, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Sistem manajemen akademik UNUSA terintegrasi secara digital melalui Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang memudahkan pelaksanaan perkuliahan, administrasi, dan layanan mahasiswa.
Visi UNUSA adalah menjadi perguruan tinggi terkemuka dan unggul di kawasan ASEAN dengan mengedepankan spiritualitas Islami dan semangat kewirausahaan. Universitas ini menanamkan empat nilai dasar, yaitu Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), Tasamuh (toleran), dan I’tidal (adil), yang tercermin dalam setiap kegiatan akademik maupun nonakademik. Selain itu, sistem pendidikan di UNUSA mengintegrasikan pendidikan akademik, vokasi, profesional, riset, serta pengabdian kepada masyarakat, dengan fokus pada pengembangan karakter Islami dan jiwa kewirausahaan. Untuk menjaga kualitasnya, UNUSA menerapkan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang dirancang untuk memperkuat kapasitas institusi, tata kelola, sumber daya manusia, dan infrastruktur, sehingga mampu memenuhi standar pendidikan nasional dan mempersiapkan lulusan yang siap menghadapi masa depan.
Tema: Strategi Menumbuhkan Critical Thinking Ability untuk Menemukan Solusi Terbaik
Oleh Dr. Pulung Siswantoro, SKM., M.Kes., Dosen Universitas Airlangga
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk pola pikir reflektif dan analitis yang diperlukan untuk menghadapi tantangan kehidupan kampus maupun dunia profesional. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis secara aktif. Salah satu strategi utama adalah mengintegrasikan berpikir kritis ke dalam kurikulum melalui metode pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif, seperti analisis studi kasus, simulasi, diskusi kelompok, dan debat. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi, tetapi juga menguji asumsi, mengevaluasi argumen, serta menilai validitas informasi berdasarkan logika dan bukti yang ada. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan di luar kelas, seperti kompetisi berpikir kritis dan organisasi kemahasiswaan, turut melatih kemampuan analisis, pengambilan keputusan, serta keterampilan evaluasi dalam situasi yang dinamis.
Strategi penting lainnya adalah melatih refleksi dan metakognisi, di mana mahasiswa dilatih untuk meninjau proses berpikir mereka sendiri, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta memahami alasan di balik keputusan yang diambil. Teknik seperti journaling dan diskusi reflektif dapat digunakan untuk memperkuat kesadaran kognitif ini. Selain itu, keterampilan berpikir kritis dapat diasah melalui teknik bertanya seperti Elaborative Interrogation dan Socratic Questioning, yang membantu mahasiswa mengembangkan pertanyaan analitis dan memperoleh pemahaman lebih terhadap suatu konsep. Penggunaan strategi pembelajaran kooperatif seperti think-pair-share, Jigsaw, dan Round Robin juga dapat diterapkan untuk menstimulasi diskusi, menantang sudut pandang yang berbeda, dan mengembangkan pola pikir kritis secara kolektif. Dengan kombinasi berbagai pendekatan ini, perguruan tinggi dapat mencetak mahasiswa yang tidak hanya menguasai materi akademik, tetapi juga memiliki keterampilan berpikir kritis yang matang untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan profesi di masa depan.
Lihat Juga Blog Teman Saya: qonialfiyatussholeha
Sosial Media Unusa

Komentar
Posting Komentar